Keping 004; Partikel

Dee Lestari tidak pernah mengecewakan publik Indonesia dengan novel nya yang tergabung dalam serial “SUPERNOVA”. Walaupun tergolong agak berat untuk dibaca remaja, sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mencerna kata demi kata, namun Novel Partikel, yang merupakan seri ke empat supernova ini sukses membuat gue terhanyut dalam perjalanan hidup Zarah yang penuh kejutan. If you guys, the readers, don’t have much time to read the novel by yourself, you can easily scroll down and just read my summary of the novel (it’s kinda long but i hope you’ll like it)

partikel

Partikel – Dee Lestari

Zarah Amala dan keluarganya tinggal di pinggir kota Bogor, dekat sebuah kampung kecil bernama Batu Luhur. Ia merupakan cucu dari seorang kakek bernama Hamid Jalaludin, seoran pria bertubuh tinggi dan gagah keturunan Arab yang dipanggil Abah oleh cucu – cucunya. Abah sangat dihormati di Batu Luhur, ia berperan besar dalam kemajuan Batu Luhur. Firas, ayah Zarah merupakan anak angkat dari Abah dan Umi, sebelum akhirnya 5 tahun kemudian mereka mempunyai anak kandung, Aisyah, ibu Zarah. Sejak ayah bayi, abah sudah melihat tanda – tanda keluarbiasaan dari Firas. Kampung Batu Luhur menjadi makmur akibat peran Abah dan Ayah. Oleh karena itu nama Firas dan Hamid Jalaludin adalah dua nama sakral yang diagungkan oleh penduduk Batu Luhur.

Beranjak dewasa, ayah tidak selalu tinggal di rumah abah. Ia memilih tinggal di kontrakan bersama teman sekampusnya, atau menginap di Batu Luhur. Jarak itulah yang membuat Ibu Zarah jatuh cinta, akhirnya mereka berpacaran, ayah menghabiskan tabungannya untuk memberi rumah kecil kepada ibu. Hal ini merupakan pemberontakan kepada Abah dan Umi. Mereka masih menganggap Ayah dan Aisyah adalah saudara kandung. Dan hubungan mereka berdua dianggap Aib. Namun berkat dukungan warga Batu Luhur, Abah dan Umi menyerah. Walau tak merestui sepenuhnya.

Kelahiran Zarah dan adiknya, Hara tidak terlalu menyenangkan hati Abah dan Umi, barangkali mereka kebingungan harus bersikap kepada dua bocah hasil hubungan “inses” anak – anak mereka.

Sebelum Hara lahir, ayah mengambil alih menjadia guru pribadi Zarah. Belajar di rumah, kebun, bahkan di kampus. Awalnya orang mengira itu hanya untuk sementara, namun ketika usiaku menginjak enam tahun, Umi dan Abah mulai menawarkan dan memaksa zarah untuk sekolah. Aisyah menyarankan agar Zarah dimasukkan ke sekolah dasar, namun firas tidak setuju. Ketegangan antara ayah dengan Umi dan Abah makin kentara. Setelah sekian lama kedua belah pihak mulai menyerah, dan menjaga jarak.

Menurut Zarah, Firas adalah orang yang saangat kontroversial, ia menutup dirinya dengan dunia luar, dan hanya kepada Zarah ia mau melonggarkan pertahanannya. Kegilaan Firas terhadap Fungi sudah menjadi rahasia umum, memerlukan upaya ekstra dari Firas dan Zarah sendiri agar bisa memberi respek terhadap fungi. Bagi Firas, fungi adalah orangtua alam ini.

Dengan segala jasanya, ayah mempunyai akses ke semua celah Batu Luhur, termasuk tempat yang ditakuti dan terlarang bagi semua orang, kecuali ayah. Tempat yang kelak menghancurkannya.

Penduduk desa menamakannya Bukit Jambul, tidak seperti bukit lainnya yang dipenuhi oleh ladang dan sawah, Bukit Jambul menjadi rumah bagi entah berapa banyak pohon raksasa yang menutupi sekujur tanahnya, saking mencoloknya, Bukit Jambul seperti dicaplok dari tempat lain, diletakkan di sana oleh sepasang tangan ajaib. Menurut Firas, Bukit Jambul ibarat miniatur alam jika tidak ada ladang, sawah, atau manusia.

Semakin Firas dewasa, Abah hanya bisa berdoa agar mimpinya tidak menjadi kenyataan. Penduduk hanya terheran – heran melihat Firas keluar masuk Bukit Jambul dengan mudahnya, namun ia tidak pernah memberitahu apa yang ada di dalam Bukit Jambul. Saat usia Zarah sebelas tahun, sebuah krisis terjadi, krisis yang mengguncang segitiga eksistensi ayahnya. Dan tepat saat itu, Aisyah sedang mengandung anak ketiga. Bayi yang hanya bisa dipanggil “Adek” oleh Zarah.

Ditengah – tengah kehamilan, Aisyah terus mewanti – wanti Firas agar tidak pergi ke Bukit Jambul. Ia tidak ingin Firas pulang membawa kutukan dari tempat itu. Namun Firas membantah sering pergi kesana. Zarah mendengar suara kayuhan sepeda ayahnya, tahu bahwa Firas akan pergi lagi. Ketika sudah hamil tua, Aisyah menyuruh Firas berjaga di rumah setiap hari. Firas mengambil cuti dari kampus, perut Aisyah sudah mulai mulas, bidanpun sudah bersiaga di rumah Zarah. Namun, hasilnya nihil. Firas tak kembali malam ini.

Pukul sembilan malam, Aisyah menjalani persalinan dibantu oleh Bidan Ida dan pembantu yang mengurusi keperluan keluarga Zarah selama ini, Bi Yati.   Zarah menunggu di luar kamar. Dari dalam kamar, terdengar jeritan Aisyah. Tiba – tiba pintu kamar terbuka, Bi Yati keluar, menuju kamar mandi dan muntah – muntah. Zarah yang dilanda penasaran menyeruak masuk ke kamar. Dilihatnya Bidan Ida menggendong bungkusan kain putih sambil mengucapkan doa. Saat Zarah melihat isi bungkusan itu, ia terkejut luar biasa. Di dalam kain putih itu, terdapat sebuah makhluk yang sangat kecil, rentan, seluruh tubuhnya berupa retakkan, matanya semerah darah tanpa kelopak. Aisyah menyuruh Zarah keluar, dengan tersedu – sedu.

Kasak – kusuk mulai terdengar di kalangan warga Batu Luhur, ada yang bilang Adek merupakan tumbal yang tertunda dari Bukit Jambul. Keluarga Zarah mulai menjadi rapuh. Seakan terbagi menjadi dua unit, Firas dengan Zarah, dan Aisyah dengan Hara. Karier Firas pun runtuh, ia sudah jarang mengajar di IPB, ia bilang ia hanya mau mengajar Zarah saja.

Pertengkaran Firas dan Aisyah menjadi makanan sehari – hari bagi Zarah dan Hara mereka berargumen tentang pendidikan Zarah. Firas memerlakukan Zarah dengan istimewa, dengan uangnya yang terbatas, ia membelikan Zarah sebuah polaroid bekas, dan menyuruh Zarah memotret sesuai komandonya. Firas berjanji kepada Zarah, saat umur tujuhbelas tahun, ia akan membelikan Zarah kamera sungguhan.

Suatu malam, Firas menghadapkan Zarah pada ujian yang sesungguhnya. Ia mengajak Zarah ke Bukit Jambul. Awalnya Zarah merasa ketakutan. Namun lambat laun, ia menjadi rileks, enjoy, dan merasa bahwa itulah alamnya. Zarah lulus Ujian dari Firas.

Esok harinnya, Firas mengajak Zarah ke ruang kerjanya yang berantakan, ia mengatakan pada Zarah bahwa Zarah harus melindungi Bukit Jambul dan Jamur Guru. Firas mewariskan ruang kerja itu pada Zarah. Setelah itu, Firas mengajak Zarah dan Hara ke kebun pribadinya. Mereka bersenang – senang. Dan untuk Zarah dan Hara, itu adalah terakhir kalinya mereka bersenang – senang bersama Ayah mereka. Besoknya, Zarah mendapati tas belacunya terisi dengan Jurnal ayahnya, dan Ayahnya serta sepedanya menghilang. Firas pergi lagi.

Memasuki hari ke – empat Firas pergi, Aisyah mulai Khawatir, ia melibatkan Abah, bahkan sampai Kepolisian. Petugas berniat memeriksa ruang kerja Firas, namun karena sangat berantakan, Zarah membereskan ruangan itu dan menyuruh petugas kepolisian kembali lagi besok. Zarah menyimpan berkas – berkas ayahnya di kolong tempat tidurnya. Ia tidak dapat menemukan ke – empat jurnal ayahnya. Yang ditinggali untuk Zarah adalah jurnal kelima dan terakhirnya.

Pagi – pagi buta, Zarah pergi ke Batu Luhur, berharap petugas belum datang untuk menggeledah ruangan ayah. Namun, Zarah terlambat, petugas kepolisian sudah menyita barang – barang Ayahnya. Firas pergi dengan hanya meninggalkan kelima jurnal nya untuk Zarah.

Pada usia yang ketiga belas tahun, Zarah memutuskan untuk sekolah dengan tujuan mendapat ilmu untuk meneliti jurnal ayahnya. Memasuki semester kedua, Zarah punya teman baru. Namanya Koso, murid pindahan dari Nigeria, dengan ras negroid. Koso lemah dalam bidang akademis, namun memiliki fisik dan kemampuan olahraga yang luarbiasa. Mereka berinisiatif untuk mengikuti kursus bahasa inggris agar bisa berkomunikasi satu sama lain. Zarah membantu Koso hingga naik kelas.

Hingga kenaikan ke kelas 3 SMA, Koso tinggal kelas. Zarah meminta kepada Bu Kartika, kepala sekolahnya untuk mengulang kelas 2 bersama Koso. Keinginannya tercapai. Zarah terus membantu Koso, hingga suatu hari, tiba saatnya Koso harus meninggalkan Indonesia, dan pindah ke London. Zarah sangat sedih. Koso menantikan kunjungan Zarah di London.

Saat Zarah lulus sekolah, ia memutuskan untuk menjadi guru di tempat Kursus Bahasa Inggris nya. Sehabis diwawancara oleh Pak Ishak, direktur tempat kursus Zarah, ia pulang ke rumah, dan mendapati kamarnya seperti kapal pecah. Dan api membakar peninggalan ayahnya. Ibunya yang membakarnya. Menganggap jurnal – jurnal Firas sesat. Zarah mengayuh sepedanya tanpa tujuan yang jelas.

Esok harinya, Zarah kabur ke Batu Luhur, ia berniat mengunjungi Bukit Jambul. Seminggu kemudian, ketika akan mendaki ke Bukit Jambul lagi, Ibu Zarah menyuruhnya pulang segera, ada paket kiriman untuk Zarah. Sebuah Kamera. Lengkap dengan tasnya dan lensa. Zarah tersadar, hari itu adalah hari ulangtahunnya. Dan kamera itu adalah hadiah yang ayahnya janjikan empat tahun yang lalu.

Zarah belajar tentang ilmu fotografi dengan Pak Kas, teman lama ayahnya. Zarah juga belajar mencuci film dengan Asep, pemuda kurus berambut kribo sahabat Pak Kas.

Beberapa hari kemudian, Zarah menghabiskan hari – harinya dengan pergi ke Bukit Jambul untuk memotret apa saja yang bisa terbidik oleh kameranya. Hingga suatu hari, saat Zarah sedang santai di saung, Hara menghammpiri Zarah, memerlihatkan majalah yang berisi nama Zarah dan hasil foto kadalnya yang menang jadi juara I lomba foto di majalah itu. Zarah tidak tahu siapa yang mengirim fotonya ke majalah.

Esoknya, Zarah segera berkemas untuk untuk ke Tanjung Puting, Kalimantan, sebagai hadiah dari lomba foto itu. Ia berangkat subuh – subuh ke bandara diantar naik mobil oleh teman Aisyah yang belum Zarah kenal, Pak Ridwan.

Di Tanjung Puting, Zarah menemukan kehidupannya. Zarah bertemu Bu Inga, wanita paruh baya asal Lithuania yang menetap di Kanada. Bu Inga mendirikan Kamp untuk orangutan liar. Zarah juga bertemu seorang bayi orangutan yang induknya tewas tertembak. Zarah menamainya Sarah. Sarah sangat dekat dengan Zarah. Hingga akhirnya, Zarah memutuskan untuk menetap di Tanjung Puting, dan bekerja di sana.

Lima bulan berlalu, Sarah semakin dekat dengan Zarah. Dan akhirnya, tiba saatnya Bu Inga harus kembali ke Kanada. Zarah sangat sedih. Sebelum pergi, Bu Inga memberikan Zarah satu rol besar kertas film dan jeriken besar berisi cairan emulsi untuk mencuci foto. Zarah mendapat kartu pos dari Bu Inga yang terus disimpannya hingga tiga tahun berlalu, hingga akhirnya Bu Inga telah kembali ke Tanjung Puting

Bulan Agustus, serombongan orang Inggris datang ke Kamp di Tanjung Puting untuk membuat film dokumenter tentang orangutan. Paul Daly, 30 tahun seorang fotografer profesional. Ia menjadi komunikator yang menjembatani timnya dan Bu Inga. Paul memiliki semacam organisasi yang disebut The A- Team. Perkumpulan para fotografer wildlife yang sama – sama menyukai alam, dan tantangan. Paul memiliki pegawai magang bernama Gary Anderson, sedikit lebih muda darinya.

Bakat fotografi Zarah membuat Paul terkagum – kagum, hingga suatu hari, empat hari sebelum kepulangan tim Paul ke London, ia mengajak Zarah untuk bergabung dengan The A- Team, dan terbang ke London. Meninggalkan Tanjung Puting, Bu Inga, Sarah, dan staf lain yang ia anggap sebagai saudara. Belum Ibu, Hara, Abah, dan Umi yang tak dijumpainya bertahun – tahun. Empat hari untuk berpikir. Waktu yang diberikan Paul terasa begitu singkat.

Setelah mendapat restu dari Bu Inga, Zarah menelpon Hara, menanyakan kabar Ibu, Abah dan Umi. Mereka semua sehat. Kabar yang mengejutkan, Ibu akan menikah dengan Pak Ridwan, bulan depan. Zarah sangat sedih, karena kenangan akan ayah lambat laun menguap dari kehidupan keluarga Zarah. Sebelum pergi ke London, Zarah mampir ke Bogor untuk berpamitan dengan keluarganya.

Sesampainya di London, awal Bulan Oktober 1999, Paul menjemput Zarah di Bandara dan memerkenalkan Zarah kepada Zach, rekan satu timnya. Di London, Zarah tinggal di rumah Zach yang merangkap sebagai kantor The A Team. Setelah dua bulan adaptasi di London, Zarah mendapat tugas pertamanya, yaitu Kenya. Perjuangan Zarah membidik empat ekor singa liar dengan lensa kamera membuahkan hasil manis, karyanya dipajang di pameran komunitas fotografi, dan berhasil membuat kagum fotografer ternama, Storm Bradley.

Tidak hanya kagum pada hasil bidikan lensa Zarah, Storm ingin mengenal Zarah lebih dalam, sebagai sepasang kekasih. Hubungan mereka berjalan manis seakan dunia serasa milik mereka. Hingga pada suatu ketika, Zarah sedang menonton pertunjukan broadway bersama Paul dan Zach, ia melihat poster kontes menari dengan Koso sebagai ikon nya. Koso berhasil, Zarah berhasil, Mereka berhasil menjadi sukses. Koso terkenal seantero Inggris sebagai pemenang kontes menari.

Dengan bantua koneksi Paul yang luas, malam itu juga, Zarah mendapat kesempatan untuk bertemu Koso, yang kebetulan akan tampil di sebuah acara. Zarah setengah tidak percaya bisa bertemu dengan Koso, sahabatnya semasa sekolah, begitupun Koso, ia berteriak heboh ketika melihat Zarah muncul di pertunjukannya. Sehabis Koso tampil menari, mereka bertukar cerita dan melepas kerinduan. Seeakan menemukan bagian dari dirinya yang hilang, Koso mengajak Zarah untuk tinggal di apartemennya, dengan pertimbangan yang masak, Zarah menyetujui untuk tinggal bersama Koso.

Hari demi hari berlalu, kehidupan Zarah tidak bisa selamanya berada diatas, suatu kali ia harus mengenal yang namanya pengkhianatan. Jauh di luar dugaan Zarah pengkhianatan datang dari orang yang tak ingin dibenci nya. Di belakang Zarah, Storm selingkuh dengan sahabatnya, Koso. Bagai dihantam batu meteor, Zarah berusaha sebisa mungkin menghindar dari mereka, dan fokus pada tujuan awal dia ke London : menemukan pengirim misterius kamera nya.

Begitu Paul mendapatkan nama si pengirim kamera, tanpa basa-basi, Zarah langsung pergi ke Glastonbury untuk menemui Pak Simon Hardiman. Di sana, Zarah tidak langsung bertemu Pak Simon, ia harus pergi ke Glastonbury Symposium yang membahas tentang etnobotani. Zarah baru dapat menemui Pak Simon setelah mengikuti satu sesi simposium. Pak Simon mengundang Zarah untuk tinggal di Weston Palace, kediamannya yang luas dan megah. Pak Simon merupakan salah satu orang paling berpengaruh di Glastonbury. Tanpa diduga Zarah, Pak Simon dan ayahnya merupakan teman korespondensi yang sudah mengenal sejak Zarah masih kecil, namun baik Firas maupun Pak Simon tidak pernah saling bertemu satu sama lain.

Petualangan Zarah dilanjutkan dengan tour melihat crop circle yang konon dibuat oleh alien di beberape tempat di Inggris. Setelah beberapa hari di Glastonbury, Pak Simon akhirnya menemukan cara agar Zarah dapat bertemu lagi dengan ayahnya, dengan menelusuri penilitian ayahnya, yaitu pergi ke dunia spirit. Apapun dilakukannya untuk bertemu Firas, Zarah akhirnya setuju. Inisiasi harus dipimpin oleh seorang yang ahli tentang enteogen, seseorang yang sudah pernah melakukannya sebelumnya, yaitu Hawkeye. Ia merupakan salah satu pembicara di Glastonbury Symposium. Cara agar Zarah bisa menyebrang ke dunia Spirit adalah dengan memakan Iboga, atau Eboka, akar tumbuhan yang berasal dari Afrika.

Dengan susah payah Zarah menelan Iboga yang sudah ditumbuk menjadi bubuk, akibatnya Zarah menjadi tidak sadarkan diri, seperti meninggal, ia dapat merasakan jiwa dan raganya terpisah, jiwanya bahkan melihat jasadnya terbaring meringkuk di kasur. Zarah berhasil menyebrang ke dunia spirit. Ia bertemu dengan beberapa makhluk tinggi, besar, dengan kulit cokelat dan kasar seperti batang pohon, dengan aura yang dipancarkan berbeda-beda setiap makhluk. Seperti ditarik oleh lorong waktu, pemandangan berubah, kali ini Zarah merasakan ketenangan, tanpa disangka ia bertemu Abah, ia berbicara dengan hati Abah. Hati Zarah berbicara dengna Hati Abah, dan dia tahu arti dari peristiwa itu. Abah telah meninggal.

Saat tersadar, Zarah hendak menelpon Hara. Adiknya tersebut mengatakan bahwa Abah terkena serangan jantung, sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun tidak tertolong. Saat itu juga Zarah tahu, ia harus sesegera mungkin kembali ke Indonesia, sudah terlalu lama ia meninggalkan keluarganya, sudah terlalu lama juga ia berada dalam pencarian. Zarah tidak bertemu ayahnya dalam dunia spirit yang dihuni oleh jiwa manusia yang sudah meninggal. Setidaknya, Zarah pulang dengan mengetahui satu hal: Ayahnya masih hidup.

Ia mengatakan kepada Hawkeye dan Pak Simon bahwa dirinya bertemu Abah, dan menghentikan inisiasi tersebut yang seharusnya dilakukan satu minggu. Ia bahkan tidak bilang akan pulang kepada Paul. Kejutan tidak berhenti mendatangi Zarah, selama ini Pak Simon menyimpak fotokopi kelima jurnal ayahnya, yang dulu habis dibakar ibunya. Dalam perjalanan menuju jakarta, di pesawat, Zarah membaca ulang, memahami, dan menerka-nerka maksud dari jurnal tersebut. Di halaman terakhir jurnal kelima, tertulis sebuah surat. Bukan tulisan tangan firas, melainkan diketik, surat itu ditujukan untuk Partikel. Yang Zarah tahu, Firas memilih nama anaknya dengan spesifik. Zarah berarti Partikel.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s