sepatah-dua patah kata.

Apa lah arti sebuah nama ?

Pramesi Atmirabekti bukan lah nama yang sering kalian jumpai. Memang nama khas itu berasal dari pemikiran kedua orang tua saya yang kebetulan Jawa tulen, Pramesi artinya Permaisuri, sedangkan Atmirabekti artinya anak yang berbakti kepada orang tua. Sebetulnya, saya juga nggak ngerti kenapa orang tua ngasih nama seperti itu. Dibilang ladylike banget, nggak, serampangan juga nggak. Ya terserah Tuhan aja lah, saya akan jadi orang yang seperti apa. Yang penting, jangan sampai berat di nama. Maksud saya, sebisa mungkin berusaha lah agar tingkah laku kalian mencerminkan nama pemberian orang tua. Bagaimanapun, nama adalah doa pertama yang orang tua ucapkan untuk kalian pada hari pertama kita hadir di bumi ini.

*By the way,  gue pengen kayak Rangga AADC, jadi ngomongnya pake saya-saya an

Yak, lanjut.

Keluar dari rahim Ibu Rizka Andalusia hari Selasa (kalau gak salah ya), 25 Mei 1999 dengan selamat, saya sudah bikin dosa berat: bikin Mama saya hampir meninggal. Bagaimana enggak? Mama saya melahirkan bayi dengan berat 3,6 kg dalam keadaan sedang sakit demam berdarah. Hampir seember katanya, darahnya. Semua orang expect saya akan keluar sebagai laki-laki. Nenek saya yang waktu itu sedang di Belanda, sudah siap dengan satu stel pakaian bayi berwarna biru. Namun apa daya, Tuhan ngasih orang tua saya anak perempuan yang sudah merepotkan sejak tangisan pertama.

Sekolah? Selo lah.

Dulu, sekolah bagi saya adalah hal yang biasa aja. Bener-bener gak ada yang spesial. Kecuali kalo lagi naksir cowo, tapi itu beda soal. Saya hampir gak inget kehidupan masa kecil, bukannya amnesia, tapi emang gak inget aja gitu. Yang jelas, gue (eh, saya) pernah tinggal di Malaysia satu tahun, playgroup di sana dan ketemu temen namanya Patrick yang sampai sekarang nggak pernah gue dengar kabarnya lagi. Pas TK, gue sekolah di TK nggak terkenal deket rumah yang namanya gak usah disebut, lalu lanjut ke SD Santa Theresia di Menteng, dan sampailah gue pada sarang perawan SMP SMA Santa Ursula.

Di Sanur kan nggak ada cowo, jadi garing banget sih gue kalo soal cowo-cowo an. Temen ada, tapi kan ya gak seberapa. Dengan nggak ada nya cowok, ini membuat gue lebih menghargai persahabatan sesama perempuan a.k.a. sisterhood (halah, sok). Gue jadi lebih percaya diri, dan berani untuk ngomong apapun. Literally, apapun. 

Awalnya gue kira masuk SMA akan menyenangkan, karena pas SD gue suka berpura-pura jadi anak SMA. Tapi ternyata gak semenyenangkan yang gue bayangkan dulu. Tapi yaudalahya dinikmati aja.

ex(in)trovert

Kalau kalian liat gue dari luar, pasti akan mengira gue orang yang sangat extrovert. Ya emang gue extrovert sih, tapi hal itu gak menutup kemungkinan untuk gue jadi orang yang tertutup. Gue milih-milih kalo buat cerita ke orang. Gak semua hal yang terjadi dalam hidup gue bagikan ke orang-orang. Gak semua orang juga dapet kehormatan buat denger the untold story of my life, paling cuman satu-dua. Tapi satu-dua orang itu lah yang bisa bikin gue nyaman untuk cerita.

Antiklimaks

Belakangan gue menyadari, hidup itu emang penuh kejutan. Lu gak tau apa yang akan terjadi sedetik, sejam, sebulan, setahun lagi. Hidup juga gak selalu mulus kayak cerita di film-film, roda itu berputar, ada saat nya lo berdiri tegap, ada saatnya juga lo jongkok, bahkan tengkurep. Maksud gue, apapun situasi nya pahami lah bahwa, Tuhan ngasih lo cobaan bukan nggak ada tujuannya alias pointless. Kita semua pasti dipersiapkan untuk suatu hal yang besar oleh Tuhan, dan segala jatuh-bangun yang kita alami dalam hidup itu adalah bagian dari proses, buat melatih kita. Kalo gue sih selalu menganggap gue dipersiapkan untuk sesuatu yang besar, dan dimana-mana yang namanya persiapan emang gak akan pernah berjalan seratus persen mulus.

 

udah ya, capek.